UMROH, PERJALANAN SPIRITUAL MENUJU BAITULLAH
5 Okt

UMROH, PERJALANAN SPIRITUAL MENUJU BAITULLAH

  • By: admin
  • Motivasi
  • Komentar Dinonaktifkan pada UMROH, PERJALANAN SPIRITUAL MENUJU BAITULLAH

Apa dan Mengapa Umroh?

Dilihat dari segi bahasa, Umroh artinya berkunjung. Yaitu berkunjung ke tempat suci Makkah, yang di situ terletak Masjidil Haram yang di dalamnya ada Ka’bah. Umroh dalam konteks ibadah tidak sekadar mempunyai arti berkunjung, melainkan lebih dari itu, yaitu kita dituntut agar bisa mengambil manfaat darinya (umroh).

Dalam Fiqh bahwa setiap umat Islam itu wajib melakukan umroh satu kali seumur hidup. Demikian juga haji. Tetapi sebetulnya kalau orang sudah berhaji maka dengan sendirinya orang itu sudah berumroh. Sebab umroh itu menjadi bagian dari haji. Sebaliknya, kalau orang hanya melakukan umroh maka belum bisa orang itu disebut berhaji. Sebab, umroh itu hanya dibatasi pada tempat suci yang paling utama saja, yaitu sekitar Ka’bah dan Shafa-Marwah.

Untuk apa kita melakukan umroh? Ketika melaksanakan umroh, kita akan mengunjungi tempat-tempat suci, tempat-tempat suci itulah yang akan dikunjungi dan dan diramaikan dalam berumroh. Karena itu, umroh jadi sangat penting. Sebab ia berarti napak tilas perjalanan orang-orang yang dikasihi Allah. Yaitu Nabi Ibrahim, istrinya, Hajar, serta putranya, Nabi Isma’il, dalam rangka menegakan agama Allah, agama Hanif, yang lurus.

Napak tilas yang kita lakukan dimulai dengan pengakuan dosa, yang dilambangkan dengan pakaian ihram. Pakaian ihram itu putih-putih. Putih artinya tanpa warna, melambangkan bahwa kita tidak mempunyai klaim mengaku baik (paling baik). Berkaitan juga dengan warna putih itu, adalah sikap rendah hati. Ajaran Islam tegas sekali menuntut agar manusia itu rendah-hati.Semua orang berbaju putih. Dengan begitu maka semua orang menjadi sama di mata Allah SWT.

ZIARAH KE MAKAM RASULULLAH

Islam itu agama yang begitu keras melarang para pengikutnya menunjukkan kecenderungan menyembah sesuatu selain Allah SWT. Namun, dalam kenyataanya cukup ironis. Umat Islam sekarang ini masih banyak yang terpengaruh kehidupan mitologi yang penuh dengan tahayul.

Mereka masih memuja dengan berbagai macam cara, seperti mendatangi kuburan para wali, kiai, dan tempat yang dianggap suci dalam masyarakat Islam. Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan tuntunan Nabi yang dengan keras menjauhkan ajaran Islam dari hal-hal yang menjurus pada kesyirikan.

Ziarah yang saat ini kita lakukan (ziarah ke makam Rasulullah) janganlah diniatkan dengan semangat pemujaan, melainkan harus dengan semangat mewujudkan perintah Allah SWT, yaitu supaya kita membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Dengan perintah dalam Al-Quran :

“ Sesungguhnya Allah itu bershalawat kepada Nabi begitu juga para Malaikat. Oleh karena itu, wahai orang-orang yang beriman bacalah shalawat (bershalawatlah) atas Nabi (Muhammad), dan berilah do’a keselamatan untuk memperoleh kesejahteraan (salam) dari Nabi (Qs. Al-Ahzab [33]:56)

Bershalawat dan mendo’akan keselamatan kepada Nabi itu sebenarnya adalah cara ruhani, spirit way untuk berterimakasih kepada Nabi. Kita berterimakasih kepada Tokoh Agung itu. Sebab beliaulah yang membuat kita memeluk agama Islam, agama Allah SWT dan termasuk penyebarannya terhadap ilmu pengetahuan sampai saat ini.

PENGALAMAN RELIGIUS DI BAITULLAH

Contoh yang paling dramatis yaitu mimpinya Nabi Ibrahim AS. Yang dalam mimpinya itu Nabi Ibrahim diperintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail. Kisah yang penuh nasihat dan teladan ini disajikan dengan begitu mengharukan dalam Al-Qur’an surat ke-37 ayat 102. Kisah inilah yang kemudian menghasilkan suatu ritus napak-tilas dan peringatan. Artinya, memperingati peristiwa masa lalu, yaitu dalam bentuk ibadah haji. Jadi, haji itu merupakan ritus napak-tilas masa lalu yang menyangkut Nabi Ibrahim, putranya Ismail, dan istrinya Hajar.

Makkah adalah pusat spiritual. Karena Makkah itu akan tercipta susasana memberikan disposisi kepada kita secara optimal untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman “teofanik” yang juga bisa disebut kasyf atau penyikapan tabir. Karena itu di Makkah penghayatan kita bisa lebih intensif, lebih kental, sehingga kemungkinan mendapatkan pengalaman spiritual lebih besar.

Sebagai contoh pengalaman teofanik sederhana berikut ini dari cerita menarik yang bisa kita renungkan. Suatu ketika ada seorang yang hendak masuk Masjid Haram untuk melakukan itikaf. Karena itikafnya ingin agak lama, maka ia membawa bekal air, persiapan kalau ia kehausan. Baru sampai pintu masjid, ada orang yang minta bakal airnya. Lalu dikasihlah air yang disiapkan sebagai bekal itu. Ternyata tidak hanya orang tersebut yang minta air, teman-temannya yang lain juga sama sehingga airnya habis. Mengetahui airnya habis orang tersebut ikhlas dan tawakal kepada Allah SWT. Pada waktu itikaf, ternyata benar dugaan ia semula, bahwa ia merasa benar-benar haus. Tapi anehnya kemudian, pada saat ia merasa kehausan, tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, ada orang yang memberi air sebotol penuh. Orang yang memberi air sebotol itu sama sekali tidak dikenal. Nah, mungkin semacam inilah pengalaman teofanik itu.*

Penulis: Akhmad Al-Fakhri (Mahasiswa FIDKOM UIN Jakarta)

, , ,

KhairoTour.com © All Rights Reserved 2019

Powered by Kementrian Agama

WhatsApp chat