MENGENAL FIDYAH DALAM IBADAH HAJI
8 Jul

MENGENAL FIDYAH DALAM IBADAH HAJI

Fidyah dalam ibadah haji bermakna kewajiban tambahan atas orang yang melaksanakan haji akibat pelanggaran yang dilakukan, baik berupa meninggalkan kewajiban atau melakukan sesuatu yang diharamkan.

A. Fidyah Akibat Meninggalkan Sebuah Kewajiban

Apabila ada salah satu kewajiban haji seperti tidak bermalam di Muzdalifah atau tidak menggunting rambut (tahallul), atau kewajiban lainnya. Maka, jamaah haji diwajibkan untuk membayar fidyah atau dam.

Dam adalah denda materi sebanyak sepertujuh unta atau sepertujuh sapi atau seekor domba/kambing yang disembelih di Kota Makkah lalu dibagikan ke penduduknya yang fakir dan miskin. Namun, jika ia tidak mampu menyembelih binatang yang dimaksud, ia dapat menggantinya dengan berpuasa. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT:

“Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu) maka wajib ia berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila telah pulang pulang kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna. Demikian itu bagi orang-orang yang keluarganya tidak menetap di sekitar Masjid Al Haram dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat pedih siksaan-Nya.” (Al-Baqarah [2] : 196)

B. Fidyah Akibat Sebuah Pelanggaran

Ada pun fidyah akibat sebuah pelanggaran, sebagai berikut:

 

1. Fidyah karena mengenakan pakaian berjahit, menutup kepala, memakai wewangian, mencukur rambut, dan memotong kuku

“Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya lalu ia mencukur rambutnya maka wajiblah ia membayar fidyah yaitu, berpuasa atau bersedekah atau bekurban.” (Al-Baqarah [2] : 196)

Hal ini ditegaskan Sabda Rasulullah SAW kepada Ka’ab bin ‘Ujrah saat ia berihram.

“Apakah itu kutu di kepalamu?” tanya Rasulullah. Ka’ab menjawab, “Iya.” Nabi SAW bersabda, “Cukurlah rambutmu kemudian sembelihlah seekor kambing sebagai hewan kurban, atau berpuasalah tiga hari atau berilah makan enam orang miskin.”

Jadi, barangsiapa yang melakukan salah satu dari lima larangan di atas dengan sengaja atau terpaksa, maka ia harus membayar fidyah seperti yang dilakukan oleh Ka’ab dengan membayar fidyah adza (fidyah karena penyakit). Namun bagi mereka yang melakukannya karena lup, maka ia tidak dibebankan denda apa pun.

2. Fidyah karena bercumbu dengan istri walaupun tidak sampai melakukan senggama atau senggama setelah tahallul awal

Fidyahnya sama dengan fidyah aza yang disebutkan dalam Hadits Ka’ab.

3. Fidyah karena menggauli istri setelah tahallul awal

Yaitu menyembelih seekor unta. Jika tidak mampu maka ia berpuasa tiga hari di masa haji dan tujuh hari setelah sampai di daerah asal. Namun hajinya dianggap tidak sah dan ia wajib menyempurnakan hajinya dengan mengulangi manasik yang tertinggal pada tahun berikutnya.

4. Fidyah karena bersenggama saat melaksanakan umroh

Yaitu menyembelih seekor kambing. Umrohnya tidak sah dan ia juga diwajibkan menggantinya.

5. Fidyah akibat membunuh binatang buruan darat

Jika binatang buruan tersebut ada padanannya, ia dapat memilih antara membayar binatang padanan tersebut ata menilai harganya dengan dirham. Lalu membeli makanan yang dibagi dalam beberapa mud, setelah itu dibagikan kepada orang miskin. Setiap orang mendapatkan dua mud atau ia berpuasa setiap hitungan dua mud dinilai puasa atau satu hari.

Yang dimaksud binatang padanan adalah binatang yang serupa dengan binatang buruan yang terbunuh walaupun tidak persis sama. AD  

Comments (No Responses )

No comments yet.

Tinggalkan Balasan

KhairoTour.com © All Rights Reserved 2018

Powered by Kementrian Agama

WhatsApp chat