MEMILIH PEMIMPIN; SEBUAH REFLEKSI
15 Feb

MEMILIH PEMIMPIN; SEBUAH REFLEKSI

  • By: admin
  • Motivasi
  • Komentar Dinonaktifkan pada MEMILIH PEMIMPIN; SEBUAH REFLEKSI

Memilih pemimpin sejatinya adalah sebuah kesaksian. Sebuah kesaksian yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di hari yang tak ada satu pun amalan terlewat dari hisab Allah SWT. Maka itu, berhatilah-hatilah dalam memimpin. Refleksi ini akan membawa kita dalam sebuah kesadaran bahwa memilih pemimpin dalam Islam adalah tanggung jawab kita sebagai Muslim. 

Oleh: Kingkin Anida

Pembimbing Jamaah Umroh Khairo Tour & Travel

 

Saudaraku yang ku cintai karna Allah Ta’ala. Mari kita hayati firman Allah dalam QS Al Maidah ayat 51 ini …

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Betapa nyata apa termaktub dalam ayat di atas, bahwa Allah SWT tak akan memberi petunjuk kepada orang zalim.

Siapakah orang zalim yang hidupnya sulit tanpa petunjuk Allah?

Mereka adalah orang yang telah memilih pemimpin dari golongan Yahudi dan Nasrani.

Mengapa golongan ini tidak disukai Allah? Karna Allah mengetahui apa yang ada dalam dada mereka :

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Astaghfirullah..

Astaghfirullah..

Astaghfirullah..

Allah tidak ingin kita memilih pemimpin dari golongan mereka sebab mereka hanya akan mengajak kita pada gaya hidup dan ajaran agama mereka.

Sedikit demi sedikit kita berubah dari kebiasaan islami menjadi kebiasaan Yahudi atau Nasrani.

Tidak terasa, masuk menyergap hati kita. Lalu kita merasa malu dengan apa yang Allah perintahkan…

Kita malu sholat 5 waktu, karena khawatir dikatakan sok alim.

Kita malu merujuk ayat al-Qur’an, karna takut dibilang fanatik.

Kita malu berbusana Islam sebab minder jika diejek tak cantik.

Kita malu mengatakan kebenaran lantaran merasa sulit jika tak ada tanggapan atau komen dari teman-teman.

Bahkan juga berdampak pada pemikiran: “Kita malu memilih pemimpin yang beriman karena takut dihina dicaci sebagai “seorang yang tak merakyat” atau kata-kata keji dari fitnah lainnya”.

Akhirnya tiada suara mengaji di rumah kita, tak ada suara mengaji di musholla dan masjid kita.

Sehari hari yang kita dengar suara suara hardikan, bentakan, kebencian, kebohongan dan kemarahan. Sumpah serapah yang menyakitkan jiwa.

Jiwa-jiwa yang sakit itu bergerak dalam langkah sehari hari yang menyebarkan aroma kesakitan jiwa, kegersangan jiwa, kegalauan jiwa, kemarahan jiwa.

Apakah yang bisa kita dapatkan dari sebuah KEMARAHAN jiwa yang berserakan di sepanjang jalan kehidupan?

Inilah yang kita kenali sebagai musibah. Kehancuran hati kemudian terefleksi pada kehancuran alam. Pelan tapi pasti.

Saudaraku yang kucintai karena Allah Ta’ala.

Semoga masa depan Keluarga kita bisa lebih baik…

Masa depan kampung kita jadi lebih baik…

Masa depan Kota kita semakin baik…

Akhirnya masa depan Indonesia besok benar benar sangat baik…

Insya Allah.

Mohon aminkan ya saudaraku..

Aku yang mencintaimu sepenuh jiwaku.*

, , , ,

KhairoTour.com © All Rights Reserved 2019

Powered by Kementrian Agama

WhatsApp chat